Text

I miss you.

Photo
When saying i love you meant i love you. What happened?

When saying i love you meant i love you. What happened?

Photo
Photo
Text

Bau kopi

Di taksi perjalanan pulang. Bau kopi menguar. Mungkin kopi milik si bapak supir taksi. Baunya familiar, menenangkan. Menyenangkan hati dan pikiran yang sedang dibolak-balik.

Text

Euforia Pilpres

Jujur, aku bukan orang yang terlalu peduli politik. Sewaktu pilpres 5 tahun yang lalu aku rajin baca soal politik, rajin baca koran, baca majalah Tempo, nonton berita, diskusi sama Eyang tentang politik sebenarnya cuma karena sedang mengambil mata kuliah yang erat hubungannya dengan politik. Mau ga mau harus banyak tau. Setelah itu, udah. Cuma sekedar tau perkembangannya, seperlunya.

Tapi pilpres tahun ini lebih ‘panas’ dan menarik untuk diikuti. Dua pasang calon capres dan cawapres dengan latar belakang dan visi misi yang amat berbeda dan fanatisme pendukungnya yang luar biasa, sangat sayang untuk tidak memerhatikannya.

Pasangan yang satu berasal dari pemerintahan era Orde Baru. Bukan, dia bukan orang pemerintahan. Tapi punya hubungan dekat dengan pemerintah zaman itu. Track recordnya menunjukkan kemungkinan akan terulangnya model pemerintahan yang lalu.

Pasangan yang satu lagi awalnya hanya orang sipil, yang kemudian berkesempatan menjadi pemimpin rakyat sipil, dan cukup berhasil. Pasangan ini dapat penilaian cukup demokratis, mau mendengar, dan tidak menebar janji yang muluk.

Aku ngikutin setiap debat capres-cawapres. Dan, seru! Aku ga pernah nyangka bakal setertarik ini untuk mengikuti masalah perpolitikan di negara yang amburadul ini. Tapi ternyata memang tergantung pelakunya, ya. Begitu ada pelaku politik yang berasal dari kita, yang berjiwa muda dan revolusioner dengan cara yang sederhana, yang berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti dan bukan kalimat-kalimat yang membulat, ternyata menarik. Aku merelakan waktu dan akhir minggu yang biasanya dipakai untuk nonton film di bioskop diganti dengan nonton debat capres. Tanpa paksaan, tanpa ada yang menyuruh. Semenarik itu.

Tiap debat, moderatornya unik. Entah tidak memperbolehnya audiens untuk tepuk tangan, gemetaran di tengah panggung, jilbab yang ga simetris (iya, aku aja sih yang risih liatnya kyknya), sampai moderator debat terakhir tadi malam yang menurutku paling mantap. Suaranya bulat, tegas, bisa menguasai acara, dan memahami betul konten debat.

Debat tadi malam luar biasa. Serangan-tangkisan yang luar biasa menarik untuk ditonton. Aku ga bisa nulis banyak tanpa bias, jadi cukup itu aja. Semoga para pemilihnya bijak. Semoga pemimpin terpilih nantinya benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan. Semoga. Semoga.

Photo
Photo
Photo
Quote
"

This is how you lose her.

You lose her when you forget to remember the little things that mean the world to her: the sincerity in a stranger’s voice during a trip to the grocery, the delight of finding something lost or forgotten like a sticker from when she was five, the selflessness of a child giving a part of his meal to another, the scent of new books in the store, the surprise short but honest notes she tucks in her journal and others you could only see if you look closely.

You must remember when she forgets.

You lose her when you don’t notice that she notices everything about you: your use of the proper punctuation that tells her continuation rather than finality, your silence when you’re about to ask a question but you think anything you’re about to say to her would be silly, your mindless humming when it is too quiet, your handwriting when you sign your name in blank sheets of paper, your muted laughter when you are trying to be polite, and more and more of what you are, which you don’t even know about yourself, because she pays attention.

She remembers when you forget.

You lose her for every second you make her feel less and less of the beauty that she is. When you make her feel that she is replaceable. She wants to feel cherished. When you make her feel that you are fleeting. She wants you to stay. When you make her feel inadequate. She wants to know that she is enough and she does not need to change for you, nor for anyone else because she is she and she is beautiful, kind and good.

You must learn her.

You must know the reason why she is silent. You must trace her weakest spots. You must write to her. You must remind her that you are there. You must know how long it takes for her to give up. You must be there to hold her when she is about to.

You must love her because many have tried and failed. And she wants to know that she is worthy to be loved, that she is worthy to be kept.

And, this is how you keep her.

"

(via hefuckin)

a—lize

(via harmonyofgrace)

(Source: golden-notes, via viciousroxx)