Photo
Satu hari Sabtu yang bosan.
Cuma mau duduk di suatu tempat ditemani buku dan secangkir kopi. Berangkatlah ke Kota. Dan… Macetnya luar biasa. Ga wajar. Googling. Ada festival seni dan budaya. Ga sengaja banget ya pas ada acara! Festivalnya biasa aja sih, ga terlalu rame dan menarik. Tapi cukuplah untuk mengisi Sabtu yang bosan ini. :)

Satu hari Sabtu yang bosan.
Cuma mau duduk di suatu tempat ditemani buku dan secangkir kopi. Berangkatlah ke Kota. Dan… Macetnya luar biasa. Ga wajar. Googling. Ada festival seni dan budaya. Ga sengaja banget ya pas ada acara! Festivalnya biasa aja sih, ga terlalu rame dan menarik. Tapi cukuplah untuk mengisi Sabtu yang bosan ini. :)

Text

Tiga Dunia

Belakangan ini aku merasa memiliki tiga dunia yang berbeda, yang tidak bisa digabung dan dijalani bersamaan. Berdampingan, ya. Tapi untuk dihidupi sekaligus kok sulit ya.

Text

"Keep you sane."

Text

I miss you.

Photo
When saying i love you meant i love you. What happened?

When saying i love you meant i love you. What happened?

Photo
Photo
Text

Bau kopi

Di taksi perjalanan pulang. Bau kopi menguar. Mungkin kopi milik si bapak supir taksi. Baunya familiar, menenangkan. Menyenangkan hati dan pikiran yang sedang dibolak-balik.

Text

Euforia Pilpres

Jujur, aku bukan orang yang terlalu peduli politik. Sewaktu pilpres 5 tahun yang lalu aku rajin baca soal politik, rajin baca koran, baca majalah Tempo, nonton berita, diskusi sama Eyang tentang politik sebenarnya cuma karena sedang mengambil mata kuliah yang erat hubungannya dengan politik. Mau ga mau harus banyak tau. Setelah itu, udah. Cuma sekedar tau perkembangannya, seperlunya.

Tapi pilpres tahun ini lebih ‘panas’ dan menarik untuk diikuti. Dua pasang calon capres dan cawapres dengan latar belakang dan visi misi yang amat berbeda dan fanatisme pendukungnya yang luar biasa, sangat sayang untuk tidak memerhatikannya.

Pasangan yang satu berasal dari pemerintahan era Orde Baru. Bukan, dia bukan orang pemerintahan. Tapi punya hubungan dekat dengan pemerintah zaman itu. Track recordnya menunjukkan kemungkinan akan terulangnya model pemerintahan yang lalu.

Pasangan yang satu lagi awalnya hanya orang sipil, yang kemudian berkesempatan menjadi pemimpin rakyat sipil, dan cukup berhasil. Pasangan ini dapat penilaian cukup demokratis, mau mendengar, dan tidak menebar janji yang muluk.

Aku ngikutin setiap debat capres-cawapres. Dan, seru! Aku ga pernah nyangka bakal setertarik ini untuk mengikuti masalah perpolitikan di negara yang amburadul ini. Tapi ternyata memang tergantung pelakunya, ya. Begitu ada pelaku politik yang berasal dari kita, yang berjiwa muda dan revolusioner dengan cara yang sederhana, yang berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti dan bukan kalimat-kalimat yang membulat, ternyata menarik. Aku merelakan waktu dan akhir minggu yang biasanya dipakai untuk nonton film di bioskop diganti dengan nonton debat capres. Tanpa paksaan, tanpa ada yang menyuruh. Semenarik itu.

Tiap debat, moderatornya unik. Entah tidak memperbolehnya audiens untuk tepuk tangan, gemetaran di tengah panggung, jilbab yang ga simetris (iya, aku aja sih yang risih liatnya kyknya), sampai moderator debat terakhir tadi malam yang menurutku paling mantap. Suaranya bulat, tegas, bisa menguasai acara, dan memahami betul konten debat.

Debat tadi malam luar biasa. Serangan-tangkisan yang luar biasa menarik untuk ditonton. Aku ga bisa nulis banyak tanpa bias, jadi cukup itu aja. Semoga para pemilihnya bijak. Semoga pemimpin terpilih nantinya benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan. Semoga. Semoga.

Photo